Pages

Saturday, 25 January 2014

Ketika jarak menguji kesetiaan cinta

Dulu, dulu sekali ketika awal aku mengenal mu, sejujurnya aku tidak sedikitpun merasa tertarik. Aku mengganggap mu biasa saja, sejajar dengan teman-teman wanita ku yang lain. Perasaan ku tak sedikitpun menempatkan mu dalam prioritas yang lebih. Tidak sama sekali.
Meski saat itu aku tahu kamu menyimpan perasaan pada ku, namun tak lantas aku luluh untuk memberi mu tempat dihatiku, masih ku menikmati waktu dalam kesendirian ku, dan rasanya saat itu aku belum terlalu memikirkan tentang perasaan hati. Perhatian ku lebih tersita oleh akademik.
Aku tak tahu dengan pasti apa yang menjadi daya tarik pada ku yang akhirnya menjerat mu untuk menyukai ku, sama sekali aku tak mengerti. Bagi ku, tak ada bedanya aku dengan laki-laki lain, sama saja. namun dengan keyakinan mu bahwa aku beda dari yang lain sehingga membuat mu tak sedikitpun ragu mendekati ku.
Secarik kertas mendarat dipagi ku kala itu, sepucuk surat berisi kata-kata manis terangkai indah, terselip dengan rapi dicelah Koran pagi.
Hamparan langit cerah
Bertaburkan beribu bintang
Disinari sang purnama malam
Dedaunan menari dengan riang
Seirama cinta yang kurasa
Ku biarkan bayang mu
Merayapi malam bersama ku
Membawa kedamaian dalam sepi ku
Bersama deru angin
Seuntai harap bergejolak
Dalam getar rindu jiwaku
Hati ku berbisik lirih
Hanya kau yang ku damba
Dalam hidupku

R”

Begitu unik cara mu mengungkapkan perasaan mu, saat itu aku terbengong tak mengerti bagaimana menyikapi sikap mu, dan aku hanya tersenyum membaca kata-kata mu yang terdengar manis.
***
Entah, entah sejak kapan rasa cinta itu mulai menyelundupkan rindu diam-diam dihatiku, tak bisa ku prediksi tepatnya kapan, yang ku tahu pada akhirnya aku luluh akan perhatian mu, dan tanpa ragu akupun melabuhkan seluruh cinta ku pada mu.
Kita resmi menjadi sepasang kekasih…
Dunia terasa indah, seketika waktu melantunkan simphoni kecerian yang berbeda, serasa mengayunkan hati ku pada debaraan-debaran kemesraan. Dan masih dengan kepolosan hati yang pertama kali mencintai, aku melayang dalam denting waktu yang terjalin mesra.
Ditengah nikmatnya aku meneguk madu cinta, aku terpaksa meninggalkan mu untuk mengejar cita-cita dan masa depaan ku. Kita merajut harap dalam jarak yang tak terukur, dalam rindu yang terbingkai janji aku melangkah pergi. Melambaikan haru pada perpisahan yang semu dan meninggalkan mu yang dibasuh air mata yang keruh.
***
Sepucuk surat kau layangkan bersama gemuruh rindu, ada asa dan harap yang kau sisipkan dalam penantian mu, dan akupun mengerti sejatinya surat ini adalah isyarat tentang janji, kau menagih janji ku untuk segera menuntaskan rindu kita dalam sebuah gelaran pertemuan yang indah.
Perlahan aku merasa
Ada kebisuan disini,
Sejak kau hilang terbelenggu jarak
Sunyi…
Kekasihku,
Aku ingin kau disini,
Temani malam yang tak bertepi
Belailah resah ini
Dekaplah keraguan ini
Bersama rasa yang tak menentu
Dalam gelora rindu jiwaku
Aku membutuhkan dirimu
Ada satu harap yang selalu ku nanti
Kepergian mu untuk kembali
Dalam wujud mu yang utuh
Yang tak akan pernah berpaling
Hilang bersama waktu

“R”

Andai kamupun tahu, aku sudah tak mampu memendung segala kerinduan ini, namun seandainya aku boleh meminta, bersabarlah… perjalanan ini ku yakinkan pada mu, akan berakhir dan bermuara kembali dalam kesabaran dan kesungguhan mu mencintaiku.
~I miss you~