Pages

Sunday, 26 January 2014

pilih rokok dari pada daging ayam

TEMPO.CO, Jakarta - Konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia masih jauh di bawah konsumsi negara-negara tetangga, seperti Filipina, Malaysia dan Thailand. Rata-rata konsumsi daging ayam masyarakat Indonesia sekitar 7 kilogram per kapita per tahun. Padahal di Thailand konsumsi daging ayam mencapai 16 kilogram per kapita per tahun dan Malaysia mencapai 38 kilogram daging ayam per kapita per tahun.



Konsumsi telur masyarakat Indonesia juga dicatat baru mencapai 87 butir per kapita per tahun. Jumlah ini masih di bawah Thailand yang konsumsinya 145 butir per kapita per tahun dan Malaysia 311 butir per kapita per tahun.

"Banyak yang beranggapan rendahnya konsumsi disebabkan rendahnya daya beli masyarakat. Ini tidak benar, harga sebutir telur ayam kira-kira sama dengan sebatang rokok. Tapi faktanya konsumsi rokok masyarakat indonesia 1.108 batang rokok per kapita per tahun atau tiga batang rokok per orang per hari," kata Ketua Panitia Festival Ayam dan Telur 2013, Ruri Sarasono.

Untuk mempromosikan daging ayam dan telur sebagai sumber protein hewani murah dan berkualitas, Federasi Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI) akan menggelar Festival Ayam dan Telur 2013. Festival ini akan digelar pada 3 Oktober hingga 5 Oktober 2013 di Jakarta International Expo, Kemayoran.

Fokus dari festival tahunan kali ini adalah mendorong konsumsi ayam karkas beku di masyarakat. Ruri mengungkapkan, saat ini 80 persen perdagangan ayam masih dalam bentuk ayam hidup. Padahal, menurut Ruri, sejumlah pakar gizi mengakui bahwa ayam beku lebih sehat dan aman dikonsumsi.

"Ayam dalam kondisi beku menonaktifkan kuman. Meskipun dibekukan, sesungguhnya nutrisi daging ayam tidak berubah," kata Ruri di Jakarta, Kamis, 25 September 2013.

Ruri menjelaskan pembekuan daging ayam bertujuan untuk mempertahankan umur simpan. Pada suhu -18 derajat Celcius, karkas utuh dapat bertahan sampai 12 bulan. Sementara karkas yang sudah dipotong-potong bertahan sampai 9 bulan.

Selain lebih sehat, Ruri mengatakan, penjualan karkas ayam beku juga dapat memperbaiki tata niaga ayam. Nantinya, peternak langsung menjual ayam ke rumah potong unggas (RPU). Dari RPU, ayam bisa langsung masuk ke pedagang. "Kalau ini berjalan, harga bisa lebih stabil," kata Ruri.